Rabu, 29 Juni 2011

ALAT BANTU PENANGKAPAN

II. TINJAUAN PUSTAKA
1.     Alat Bantu Navigasi
        Sejak manusia mengenal sarana apung sebagai alat transportasi sarana penangkapan, maka sejak itu pula tindakan navigasi telah dilakukan, yaitu suatu cara yang dilakukan secara terus menerus untuk mengarahkan sarana apungnya menuju suatu titik sasaran dengan tepat, hemat dan efisien. Untuk mencapai titik sasaran tersebut selain dengan menggunakan cara yang telah disebutkan diatas, dapat juga dengan menggunakan alat bantu agar memudahkan dalam pencapaian sasaran yang dimaksud (Wahyono dan Sjarif, 2004).
        Beberapa jenis alat bantu navigasi antara lain :
a.     Kompas magnet, berfungsi untuk menentukan arah pelayaran kapal dan untuk menentukan arah baringan suatu benda terhadap kapal. Pedoman magnet di kapal biasanya terdiri dari : Pedoman standart, Pedoman kemudi dan Pedoman kemudi darurat.
b.     Peta laut, merupakan semua jenis peta yang digunakan untuk keperluan navigasi di lautan. Ia menggambarkan keadaan rinci tentang wilayah laut yang aman dilayari kapal-kapal, denagn tanda-tanda kedalaman air, adanya bahaya-bahaya navigasi baik yang kelihatan (di atas permukaan air) maupun yang terdapat di bawah permukaan air, serta benda-benda petunjuk untuk  bernavigasi.
c.     GPS, yaitu alat bantu navigasi yang bekerja berdasarkan penerimaan gelombang radio dari beberapa satelit yang mengorbit untuk mengetahui posisi, merekam arah haluan dan kecepatan kapal.
d.     Radar, digunakan untuk mendeteksi obyek (sasaran) berdasarkan prinsip pengukuran waktu tempuh yang diperlukan untuk merambatkan pulsa (denyut) sinyal gelombang elektromagnetik, sejak sinyal tersebut dipancarkan oleh transmitter hingga gema (echo) yang dipantulkan oleh obyek diterima pada receiver. Sinyal elektromagnetik yang dipantulkan oleh target (sasaran) ke pesawat penerima tersebut selanjutnya tergambar pada Display unit.
e.     Radio komunikasi,  peralatan bantu ini dikapal sangat penting agar antar kapal yang satu dan kapal yang lainnya dapat bertukar informasi pada waktu berlayar. Terdapat 3 frekuensi yaitu : VHF (Very High Frequency), HF (High Frequency) dan MF (Medium Frequency). Radio komunikasi ini walaupun dilengkapi berbagai frekuensi. Tapi yang sering digunakan dalam pelayaran adalah frekuensi 16.
f.      Fax cuaca, digunakan untuk mengetahui keadaan cuaca pada saat berlayar. Dikirimkan dari stasiun (pangkalan) masing-masing kapal. Data tersebut merupakan olahan dari data satelit.
g.     RDF, adaah alat bantu navigasi yang bekerja berdasarkan penerimaan gelombang radio untuk mengetahui arah dan perkiraaan jarak pemancar. Suara yang dipancarkan akan mengalami penurunan energi maka sampai pada target (penerima suara) sudah tidak sekuat dari yang terdepan
h.     SART adalah suatu alat yang disyaratkan dalam GMDSS (Global Maritime Distress and Safety System) yang dapat diintrogasi oleh pancaran pulsa radar khusus (Radar X-Brand atau Radar 3 cm) bila alat ini diaktifkan. Gunanya untuk pencarian kapal dalam marabahaya.
3.     Alat Bantu pelacak / deteksi
        Alat bantu pelacak atau deteksi, ada 3 yaitu :
1.        Fish finder atau Echosounder
       Alat bantu navigasi yang bekerja berdasarkan pemancaran gelombang bunyi untuk mendeteksi kedalaman perairan, mendeteksi suatu obyek dalam perairan arah vertikal. Untuk tujuan perikanan sensitifitasnya ditingkatkan sehingga mampu mendeteksi adanya ikan dibawah permukaan air.
2.        Sonar
      Alat bantu navigasi yang bekerja berdasarkan prinsip kerja energi akustik,  pemancaran gelombang bunyi untuk mendeteksi suatu obyek dalam perairan arah horizontal dan vertical. Sonar dapat memberikan gambaran dan informasi tentang kedalaman, keadaan alami dasar serta konfigurasi bentuk dasar perairan kemudian pada kapal ikan digunakan untuk memperoleh informasi tentang ukuran, densitas, distribusi, kecepatan dan arah renang fish schools, serta mengetahui bentuk dan kedudukan jaring di dalam air, mengetahui ikan yang masuk ke dalam jaring
3.        RDF
Alat bantu navigasi yang bekerja berdasarkan penerimaan gelombang radio untuk mengetahui arah dan perkiraaan jarak pemancar. Suara yang dipancarkan akan mengalami penurunan energi maka sampai pada target (penerima suara) sudah tidak sekuat dari yang terdepan.
 Ketiga alat diatas walaupun termasuk dalam alat bantu navigasi tetapi fungsinya yang lain juga dapat digunakan untuk pendeteksi ikan. Karena alat tersebut mempunyai fungsi sebagai pencari atau pendeteksi ikan sehingga penangkapan ikan dapat berjaan dengan baik.
4.   Mesin Bantu Penangkapan ikan.
      Mesin bantu penangkapan yang digunakan oeh kapal sangat tergantung pada alat tangkap yang digunakan. Mesin bantu penangkapan, pada umumnya hanya digunakan untuk membantu tenaga manusia di dalam proses penarikan atau pengangkatan alat penangkap ikan dan umumnya mesin bantu penangkap dipasang di atas geladak kapal. Tenaga mekanis yang dihasilkan, pada umumnya berupa putaran yang bisa diperoleh dari empat jenis sumber tenaga penggerak, anatar lain tenaga manusia, tenaga mesin otomotif (Diesel), tenaga listrik dan tenaga hidrolik.

2.2. Jenis – Jenis Alat Bantu
2.2.1. Alat Bantu Penangkapan Pada Longliners
1.       Line Thrower ( Line Caster)
          Kapal-kapal long line berskala industri yang sudah dilengkapi dengan line arranger, pada umumnya dilengkapi line thrower. Line thrower disebut juga line caster merupakan alat bantu penangkapan sebagai alat pelontar tali utama yang digerakkan dengan tenaga elektrik hidrolik, diletakkan di buritan kapal, digunakan pada saat penebaran pancing (setting).
1.        Line Hauler
Line hauler merupakan alat bantu penarik tali utama pada saat hauling berlangsung. Keberadaan alat ini mutlak diperlukan, karena tali yang ditebar di perairan tidak memungkinkan untuk ditarik menggunakan tangan biasa (manual), selain berat dari gaya beban dan gaya tarikan dari seluruh rangkaian long line juga akan memerlukan waktu yang lama sehingga dianggap tidak efisien. Line hauler pada umumnya digerakkan dengan tenaga elektro hidrolik, dilengkapi dengan tuas pengatur kecepatan tarik agar memudahkan penanganan penarikan tali utama, terutama pada saat menaikkan ikan hasil tangkapan atau saat terjadi kekusutan tali. Line hauler ditempatkan di geladag kerja hauling (hauling working space). Kekuatan tarik dari line hauler disesuaikan dengan ukuran besar kecilnya kapal (Suwardiyono dan Nuryadi Sadono, 2004).
2.        Line Arranger (Penyusun tali utama)
Pada kapal-kapal long line yang sudah modern peralatan bantu penangkapannya dilengkapai peralatan lain selain line hauler. Line arranger ditempatkan diatas main line tank (tangki penyimpanan tali utama) merupakan alat bantu penangkapan yang berfungsi sebagai penarik dan penyusun tali utama agar tertata rapi di dalam main line tank (Suwardiyono dan Nuryadi Sadono, 2004).
3.        Branch Line Ace dan Buoy Line Ace
Branch line ace ditempatkan pada geladag kerja di lambung kanan kapal dibelakang line hauler, merupakan alat bantu penangkapan sebagai penarik dan penggulung tali cabang (branch line) dengan menggunakan tenaga motor listrik. Sedangkan buoy line ace yang digunakan untuk menarik tali pelampung (buoy line) pada saat kegiatan hauling. Branch line dan buoy line yang sudah diangkat dari air segera dilepas dari tali utama kemudian digulung dengan branch line ace setelah tergulung dan diikat lalu ditempatkan dalam basket (keranjang) (Suwardiyono dan Nuryadi Sadono, 2004).
4.        Side Roller/ Line Guide Roller
Alat ini ditempatkan pada dinding atau tepi lambung kapal dan berfungsi untuk menjadikan main line terarah alurnya sehingga dapat mengarah ke line hauler. Bahan side roller terbuat dari baja stainless dan kerjanya secara aktif (Nur Bambang et al, 1999).
5.        Slow Conveyor
Slow conveyor merupakan alat bantu penangkapan berupa ban berjalan lamban, ditempatkan melintang kapal di bawah line hauler. Fungsi line hauler adalah menggeser tali utama yang telah ditarik line hauler agar tidak menumpuk dibawah line hauler tersebut. Sementara main line bergeser mengikuti conveyor tersebut, main line ditarik oleh line arranger untuk disusun dan diatur pada tangki penyimpanan tali utama (Suwardiyono dan Nuryadi Sadono, 2004).
6.        Branch Line Conveyor
Branch line conveyor adalah alat bantu penangkapan berupa ban berjalan. Alat ini ditempatkan di sisi kiri kapal yang berfungsi memindahkan atau menghantar peralatan penangkapan seperti branch line, pelampung, tali pelampung dari geladag kerja didepan ke gudang penyimpanan alat tangkap di buritan kapal. Pada kapal-kapal long line modern berukuran kecil biasanya tidak dilengkapi ini, karena jarak dari geladag kerja didepan dengan gudang penyimpanan alat tangkap titik jauh (Suwardiyono dan Nuryadi Sadono, 2004).
2.2.2. Alat Bantu Penangkapan Pada Gill Netters
1.      Winch
Pada gillnet, mesin bantu winch digunakan untuk menarik jaring dengan menggulung langsung keseluruhan badan jaring ke dalam drum penggulung bertenaga hidrolik. Winch disebut juga dengan Net drum.
2.      Cone Roler
Cone roller adalah alat penarik jaring yang tersusun dari dua buah silinder karet yang berputar berlawanan arah, sehingga jaring berikut pelampung dan pemberatnya dapat digiling bersama untuk menarik ke atas kapal. Cone roller digerakkan dengan tenaga hidrolis dengan kecepatan antara 20-60 m/menit. Kecepatan tarik, daya kuda, dan putaran kerja Cone roller sangat tergantung pada ukuran kapal, jumlah gillnet yang selalu dioperasikan pada setiap setting, serta kemampuan ekonomi nelayan yang bersangkutan untuk mengadakan alat tersebut.
3.      Kapstan
Berdasarkan fungsi kerja, kapstan merupakan mesin bantu yang digunakan untuk beragam keperluan penarikan, seperti menarik tali selambar pada gillnet. Sedangkan tenaga penggerak yang digunakan untuk memutar sistem kapstan, pada umumnya kapal nelayan di Indonesia menggunakan tenaga mesin diesel. Sebagian besar mesin bantu kapstan langsung dihubungkan dengan mesin induk (motor induk/utama penggerak kapal), dengan sistem penyambungan/transmisi menggunakan gardan mobil sebagai transmisi. Mesin bantu kapstan dengan sistem transmisi yang demikian sering disebut dengan “kapstan-gardan” oleh nelayan.
4.      Net Hauler
Net hauler adalah alat bantu pada kapal gill net yang digunakan untuk penarikan jaring yang telah ditabur di laut, agar jaring lebih ringan ditarik dan mudah ditata kembali di atas geladak. Pada umumnya kecepatan tarik yang dibutuhkan antara 30 m/s – 90 m/s. Cara pengoperasian Net hauler adalah hanya dengan menarik jaring Gill net melalui drum berbentuk konikal dan jaring insang tidak digulung langsung di dalam drum penggulung, melainkan bagian jaring yang sudah ditarik di belakang Net hauler, kemudian diatur untuk persiapan penurunan jaring kembali (setting).
            Net hauler yang digunakan pada kapal Gill net dapat dibedakan atas 2 tipe. Pada kapal yang dilengkapi dengan cone roller umumnya dilengkapi pula dengan net hauler tipe memanjang, ditempatkan di tepi atas pagar kapal dengan tujuan memperingan kerja cone roller dan memudahkan nelayan pada saat melepaskan ikan yang terjerat mata jaring. Tipe ini lebih dikenal dengan side roller. Tipe lainnya yaitu net hauler berbentuk blok (power block), ditempatkan di atas geladak kerja pada sisi arah hauling, untuk menarik jaring pada waktu hauling, pemberat, pelampung beserta jaringnya disisipkan pada blok (roller) yang berputar digerakan dengan tenaga hidrolik. Alat ini hanya untuk menangkap ikan-ikan tuna kecil.
2.2.3. Alat Bantu Penangkapan Pada Purse Seiners
1.   Winch
      Winch merupakan mesin bantu yang digunakan untuk menarik tali kerut atau tali kolor. Penempatan winch di kapal ada yang di bagian belakang, di bagian depan, adapula ditempatkan di kedua sisi samping kamar kemudi. Winch ini sangat berguna untuk menahan tali pada saat thowing. Berdasarkan fungsi kerja alat bantu winch digunakan untuk menarik tali kerut atau tali kolor dan untuk penarikan bagian cincin dengan tenaga penggerak yang digunakan berupa tenaga hidrolik. Tenaga ini paling umum digunakan dan memiliki daya serta bentuk yang besar. Pada umumnya dipasang pada kapal-kapal ikan pada skala industri (Syahasta dan Zaenal Asikin, 2004).
2.   Power block
      Menurut Syahasta dan Zaenal Asikin (2004), Power block merupakan mesin bantu yang digunakan untuk menarik jaring pukat cincin dari dalam air ke atas deck kapal. Mesin bantu ini sebagian besar bertenaga hidrolik serta memiliki daya gerak besar. Power block yang berukuran kecil dan memiliki daya gerak kecil selain bertenaga hidrolik, adapula yang menggunakan tenaga listrik. Power bertenaga mesin diesel hampir tidak ada, kecuali hasil rekayasa sendiri pada kapal ikan bukan skala industri.
3.   Purse block dan dewi-dewi
      Purse block dan dewi-dewi berfungsi untuk menahan, mengatur dan mengumpulkan cincin jaring yang terletak disamping bagian haluan. Purse block dan dewi-dewi ini terbuat dari bahan besi. Purse block dan dewi-dewi pada intinya cocok untuk pertahanan pada saat penarikan jaring ke atas kapal. Dewi-dewi purse seine biasanya akan mendukung block untuk penanganan dalam pengambilan tali penyeret disamping purse block (John C. Sainsbury, 1975).
4.   Purse ring stowage
      Purse ring stowage adalah palang panjang yang digunakan untuk menahan atau menyimpan semua ring sehingga dapat meluncur sebelum setting. Palang panjang ini terbuat dari besi dengan panjang kira-kira mencapai dua meter. Alat ini diletakkan di samping sebelah kiri agak ke buritan (John C. Sainsbury, 1975).
5.   Fish pump
      Fish pump digunakan untuk kapal industri perikanan, alat ini merupakan pipa air yang panjang dan dihubungkan langsung ke ruang mesin untuk memompa air. Fish pump terletak di tengah lambung kanan kapal. Dalam hal ini, sekat de-watering mungkin ditempatkan berdampingan dengan lubang palka yang digunakan untuk membersihkan atau mencuci ikan dan dapat juga digunakan untuk membersihkan kapal dengan cara mengambil air dai laut. Alternatif lain dengan membuat persediaan untuk saluran air dari palka yang kemudian dibangun sebagai tangki untuk mata air diamana air ini mungkin dipompakan keluar kapal (John C. Sainsbury, 1975).
6.   Seine skiff
      Seine skiff adalah alat bantu yang digunakan untuk menarik ujung jaring dan untuk tempat pelampung dan pemberat atau ring pada waktu setting. Selain itu, dapat pula diguanakan untuk menarik bagian belakang atau buritan kapal pada waktu operasi penangkapan agar kapal selalu jauh dari posisi jaring dengan tujuan untuk menghindari tersangkutnya jaring pada baling-baling kapal (John C. Sainsbury, 1975).
7.   Capstant (Gypsy hoist)
      Capstant (kapstan) pada kapal purse seine digunakan untuk menarik tali pelampung (float line) atau tali kolor atas pada saat hauling, guna merapatkan tangkapan kedua ujung bagian sayap jaring. Di samping itu kapstan berguna pula untuk memperingan kerja pada saat pengangkatan ikan yang telah tertangkap dalam cakupan jaring untuk dinaikkan di atas kapal (Brailling). Capstant terletak di lambung kiri kapal ke arah buritan. Kapal purse seine merupakan kapal pemburu kelompok ikan untuk itu dibutuhkan kecepatan kerja yang sangat tinggi dan peralatan kerja yang mendukung perolehan hasil tangkapan (A. Farid. et al, 1989 )
2.2.4. Alat Bantu Penangkapan Pada Trawlers
Adapun peralatan alat bantu yang digunakan untuk alat tangkap Trawl yaitu sebagai berikut :
1.   Boom
            Merupakan tempat melekatnya rig dan out rigger. Harus memiliki panjang yang cukup untuk membawa cod end (kantong) pada posisi yang diharapkan dan biasanya diletakkan pada center line (garis tengah kapal).
         Rig
Terletak di belakang rumah geladak menempel permanen pada boom atau tiang agung (tiang gantung). Berfungsi sebagai alat bantu untuk menurunkan dan mengangkat kantong trawl serta sebagai jalur untuk tali wire dari alat tangkap.
         Outrigger
Terletak di belakang rumah geladak menempel permanen pada boom atau tiang agung (tiang gantung) dan dapat Digerakkan kekiri dan kekanan kapal. Berfungsi sebagai jalur penarikan wire.
2.   Winch
            Terletak di belakang rumah geladak dan tepat di bawah rig dan outrigger. Posisi winch menempel pada deck dengan diberi dudukan besi.  Winch ini terdiri dari drum dan hydraulic inofer.







         Drum Trawl
Bentuknya harus besar untuk memutar agar Trawl naik. Salah satu contohnya adalah drum dengan flat tunggal mempunyai kelemahan dapat merusak bagian tengah dari drum itu sendiri dan bagian atas dari jaring.
         Hydraulic inofer
            Merupakan mesin untuk mengatur jalannya winch. Terdiri dari motor power hidrolik yang diletakkan diruang mesin untuk mengalirkan oli ke pipa dimesin pengatur yang terletak diatas bangunan kemudi dan setir pengontrol winch diatas bangunan kemudi.
3.   Towing Block       
      Menetap di buritan di sisi samping Trawl. Merupakan bagian yang menentukan dimana warp dapat mengikuti kapal secara terarah selama proses towing. Towing block adalah sebuah kumpulan tali yang terikat kencang menjadi sebuah bagian yang diperkuat dengan rantai yang tepat panjangnya dan kuat. Ada berbagai tipe yang banyak di jumpai.
4.   Snatch Block
Dibuat untuk digunakan dalam berbagai tugas permanen pada suatu Trawl. Ada berbagai bentuk rancangan, tapi pada umumnya yang perlu diperhatikan adalah bagian depan yang digunakan untuk cantelan atau penyangga. Tergantung pada jenis, kemanapun terhubung dengan baik atau  bahkan diatas geladak untuk mengangkat pada waktu tertangkap. Snatch block mempunyai suatu penutup yang dapat diangkat sedemikian sehingga gulungan tali dapat ditempatkan di sekitar katrol. Dan penutup tersebut di kunci atau tertutup kembali dengan menggunakan penjepit.


5.   Otter Board
            Otter board merupakan alat bantu bukaan mulut jaring ke arah horizontal. Pembukaan horizontal bentangan otter board merupakan jarak antara kedua otter board yang terbentang pada saat dioperasikan.


Selasa, 28 Juni 2011

*to my self upon time :D

kangen pusing sekali rasanya perasaan ini, tak mampu rasanya otak ini tuk mendengarkan kata-kata yang keluar dari tulisan dan cemoohanmu, tiap hari aku lihat mata dan kakimu selalu bersikukuh untuk mendapatkan apa yang kamu mau inginkan, namun kini telah berubah, kamu sudah lupa akan tabiatmu, kamu pun jadi bodoh dan tolol, bahkan nulis kalimat saja tak benar, dibolak balik. ambil keputusan saja tak berani, ketakutan-ketakutan akan tak datangnya kesempatan dan jatah hidup dari tuhan, kamu masih berfikir bahwa kesempatan dan jatah mu dari tuhanakan di ambil orang lain, bukan kah tuhan sudah menjanjikan bahwa setiap manusia itu memiliki jatah masing-masing.. tapi kenapa kamu masih saja mengeluh dan merasa takut melangkah dalam mengambil keputusan di dunia ini????? mau sampai kapan kamu sembunyikan dirimu??? mau sampai kapan???? apa sampai semua terlambat???? cepatlah sadar sebelum semua terlambat....

*to my self upon time:D

Kamis, 09 Juni 2011

menara samar

"ternyata dala keseharianku menapaki tanjakan-tanjakan yang tak tentu itu segera mungkin akan menghasilkan petunjuk, namun aku masih ragu akan apa yang sudah aku lihat, sekiranya masih samar, mungkin aku harus lebih serius lagi dalam mendaki bukit samar, pasti ini ada sesuatu yang membuatku belum yakin sepenuhnya, aku mesti bertanya dan mencari tahu tentang problematika yang sedang aku ahadapi, aku yakin semua akan indah pada waktunya"

Jumat, 15 April 2011

My Bibliography (1990-2010

Nama : Choirul Rikza

Asal  : dk. Sekacer. Desa Sinanggul Rt 32 Rw VI, Kecamatan Mlongggo. Kabupaten Jepara. 59452
Te te el : Jepara, 08 Mei 1990
Riwayat Pendidikan Formal : TK Tarbiyatul Athfal Sinanggul II (1994-1995), MI Maftahul Falah Sinanggul II (1996-2002), MTs Hasyim Asy'ari Bangsri, MA Hasyim Asy'ari Bangsri, S1 FPIK Universitas Diponegoro.
Riwayat Pendidikan Non Formal : TPQ Bu Umi Sinanggul, Madrasah Diniyah KH. Abu Muslim Sinanggul, Ponpes Darut Ta'lim Bangsri, Pesantren Kilat Ponpes Al Uswah Gunung Pati, RKSS (Rumah Kegiatan Singosari Sembilan) Semarang. 
Aktivitas Organisasi : MI (....), MTs (....), MA (IPNU>Anggota, OSIS>Ketua Umum, Basket, Paskibra, KSR, Pendiri Teater Keramat, KMP (keluarga mahasiswa perikanan) Undip, Ketua Teater Diponegoro 2009/2010, Kelompok studi PSP, Formasi, Mata Air Gus Mus, de el el)
Prestasi Akademik : MI (Rangking 4 kelas satu, rangking 6 kelas 2, Rangking 3 kelas 4, Rangking 5 kelas 5, rangking 5 kelas 6, rangking 4 UAN), rangking 4 MTs kelas 2... selanjutnya tak pernah dapat rangking lagi.....kalah saing....hahaa
prestasi/karya non akademik: 10 finalis lomba foto pendidikan di Kampus UPI Bandung, Pentas Merapi di Tugu Muda, delegasi Temu teater Mahasiswa Nusantara di Bogor 18-26 Oktober 2010, Delegasi HIMPUNAN MAHASISWA PERIKANAN INDONESIA , Bogor 12-20 Juli 2010. sutrdara pentas candi tugu (komunitas se semarang) 2011, pemain dalam naskah "istri muda" 2009, dan sering menjadi koordinator dan ketua panitia di event yg diselenggarakan teater dan keorganisasian kampus lainnya...de el el..... matur nuwun

bodoh..

B_enar-benar tak meyakinkan, selalu saja egois dengan diri sendiri...

O_ga-ogahan seperti pelayan pabrik pupuk kompos sapi di kampung karna bauuuu

D_emi gengsikah tetap bersikukuh jadi orang gak jelas tanpa arah....

O_rang mengira diri ini mampu, padahal sesungguhnya tak tau apa-apa...

H_idup ini adalah kompetisi, siapa yang bersungguh-sungguh maka akan mendapatkan hasil... 

Selasa, 12 April 2011

merantaulah (wahai) rasa gundah

merantaulah wahai rasa gundah
tak kuasa ku menangkasnya
kau selalu muncul
kau selalu membayangi
kau selalu datang tak tepat
pada tiap-tiap aktivitasku yang padat
kau membuatku terhenti
setiap kali aku beraktivitas
tidakkah kau menginginkanku merajut sukses?
ehmmm....apakah kau cemburu padaku?
apakah kau iri padaku?
pergilah secepat mungkin..
aku tak mau kau terus berada dalam aktivitas-aktivitasku..
selamat jalan..

Senin, 04 April 2011

sutradara itu?????

PERANAN PENYUTRADARAAN DALAM PENYAJIAN TEATER Sutradara adalah orang yang mengoordinasikan segala unsur teater dengan kecakapan dan daya imajinasi sehingga mewujudkan pertunjukan yang sukses. Tugas sutradara ialah sebagai berikut: 1. Sebagai pusat kesatuan kekuatan dari para aktor, dan 2. Sebagai koordinator bagi para pemain dan para teknisi. Kedudukan sutradara berada ditengah-tengah, yaitu diantara pengarang, aktor, dan penonton. Hal-hal yang pokok dari kerja sutradara dibagi menjadi tujuh macam sebagai berikut. 1. Menentukan dan menemukan motif (gagasan)menentukan motif dan gagasan yang merusak pada suatu karya cerita dan memberi ciri kejiwaan pada karyanya. Motif (gagasan) dapat bersifat sebagai berikut: a. Ringan (tidak mendalam); b. Memberikan suasana khusus; c. Membuat cerita gembira menjadi suatu banyolan (lucu); d. Mengurangi tragedi yang berlebihan. 2. Menentukan casting Casting adalah proses penyaringan untuk menentukan pemeran (pemain) berdasarkan hasil anaisa naskah untuk diwujudkan dalam pertunjukan. Macam-macam casting ialah sebagai nerikut: a. Casting berdasarkan kecakapan; b. Casting berdasarkan tipe (kecocokan fisik) pemain; c. Casting berdasarkan pertentangan watak atau fisik pemain; d. Casting berdasarkan kesamaan emosi dan temperamen yang dimiiki pemain e. Casting berdasarkan terapi. 3. Tata dan Teknik Pentas Sutradara harus mengerti tentang tata dan teknik pentas, yaitu segala hal yang menyangkut kebutuhan suatu pementasan. Sebagai contoh kostum, make up, dekor, dan lampu penyinaran (kalau tragedy berwarna gelap atau abu-abu, sedangkan komedi berwarna mencolok) 4. Menyusun Mise en Scene Menyusun Mise en Scene adalah menyusun segaa perubahan yang terjadi dan terdapat pada daerah permainan karena adanya perpindahan pemeran (pemain) atau perlengkapan panggung. Contohnya sebagai berikut: a. Sikap pemain; b. Pengelompokan (grouping); c. Dekorasi yang digunakan dalam pentas; d. Efek tata sinar. 5. Menguatkan dan melemahkan Scene Menguatkan dan melemahkan scene (bagian-bagian tertentu) dari suatu cerita adalah teknik atau cara dalam pengarapan cerita yang dituangkan pada bagian-bagian adegan yang ditampilkan. Sutradara bebas menentukan tekanan pada bagian-bagian cerita menurut pandangan sendiri-sendiri tanpa merubah naskahnya.

Posted by Chilmi 'Wereng' Ardiantovani at 9:15 PM Email This
BlogThis!
Share to Twitter
Share to Facebook
Share to Google Buzz
0 comments:


Post a Comment